Kamis, 09 September 2021

Megengan ( tradisi menyambut Bulan Suci Ramadhan masyarakat Caruban dan sekitarnya)


Megengan  atau meugangan adalah tradisi menyambut bulan suci ramadhan yang berkembang di daerah Aceh, Melayu dan Jawa. Tradisi ini dilakukan berkumpul bersama keluarga, makan bersama, hingga membaca zikir dan tahlil untuk arwah keluarga yang telah wafat. 

Selain itu, masyarakat juga melakukan ziarah kubur dan menggelar sedekah massal di masjid atau musala.Ada juga masyarakat yang melakukan kunjungan silaturahmi.Semuanya itu dilakukan dalam rangka menyambut bulan suci ramadhan dengan bergembira. Menyambut bulan suci ramadhan dengan kegembiraan merupakan hal yang baik dalam agama. 

Dilansir dari nu.or.id, dalam riwayat Imam Ahmad dan An-Nasa’i mengabarkan kepada kita bahwa Rasulullah SAW juga mengekspresikan kegembiraannya kepada para sahabat perihal kedatangan bulan suci ramadhan. 

Hal itu sebagaimana termaktub dalam hadits berikut ini:

“Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada para sahabat atas kedatangan bulan Ramadhan, sebagaimana riwayat Imam Ahmad dan An-Nasai dari Abu Hurairah RA. Ia menceritakan bahwa Rasulullah memberikan kabar gembira atas kedatangan bulan Ramadhan dengan sabdanya: Bulan Ramadhan telah mendatangi kalian, sebuah bulan penuh berkah di mana kalian diwajibkan berpuasa di dalamnya, sebuah bulan di mana pintu langit dibuka, pintu neraka Jahim ditutup, setan-setan diikat, dan sebuah bulan di mana di dalamnya terdapat malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang luput dari kebaikannya, maka ia telah luput dari kebaikan yang banyak,” (Lihat Az-Zarqani, Syarah Az-Zarqani alal Mawahibil Ladunniyah bil Minahil Muhammadiyyah, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], juz XI,


Sumber:www.kompas.tv

Rabu, 08 September 2021

Soto Ayam (Makanan yang sering dijumpai di Caruban)

 

 Soto ayam baru saja dinobatkan sebagai salah satu sup terbaik di dunia versi CNN. Soto ayam dinobatkan sebagai salah satu sup terbaik bersama 19 jenis sup lainnya dari berbagai belahan dunia. Berbagai negara tentunya memiliki sajian sup versinya masing-masing dengan bahan-bahan dan cita rasa yang berbeda.

Sup merupakan maskaan berkuah dari kaldu yang diberi bumbu pala, lada, dan sebagainya. Sajian sup ini biasanya ditambahkan dengan lauk dan sayuran sebagai pelengkap, yang membuat rasanya semakin lezat.

Soto Ayam merupakan salah satu kuliner Indonesia yang memiliki berbagai varian berbeda di tiap daerah. Namun, pada dasarnya Soto Ayam adalah makanan yang berkuah kuning dari kunyit dengan suwiran ayam di dalamnya.  

Sejarah Soto di Indonesia

Soto Ayam merupakan sup dengan campuran mi dan ayam, yang juga dilengkapi dengan ragam rempah, mulai dari kunyit segar, kayu manis, serai, hingga daun jeruk. Paduan rempah tersebut menghasilkan aroma dan rasa yang khas dan tentunya menggugah selera. Soto ayam juga ditambah dengan taburan bawang merah goreng, jeruk nipis segar, dan irisan cabai merah yang pedas.

Soto pertama kali dikenal di pesisir pantai utara jawa pada abad ke-19 Masehi, sebagai masakan berkuah dengan potongan daging atau jeroan. Menurut Denys Lombard dalam bukunya yang berjudul Nusa Jawa 2: Silang Budaya Jaringan Asia (1996), soto mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia karena imigran dari Cina.

Pada awalnya, sajian soto menggunakan daging babi sesuai dengan sajian yang dibuat oleh orang-orang Tionghoa. Bahkan, dulunya makanan khas Indonesia ini dijajakan dengan gerobak atau pikulan. Sajian ini lama-kelamaan makin berkembang dan dagingnya pun diganti dengan daging ayam, sapi, bebek, atau kerbau, hingga jeroannya.


Sumber: hot.liputan6.com


Nasi Jotos khas Caruban(Enaknya bukan sekedar mitos)




Kuliner apa yang langsung terbersit di benak Anda begitu mendengar nama Kota Madiun? Ya, pecel. Makanan semua kalangan ini memang identik dengan Madiun.

Namun, kuliner di daerah yang memiliki sebutan Kota Pendekar ini tak melulu pecel. Ada makan lain yang memiliki nama unik. Nasi Jotos.

Ya..Anda tak salah baca, nasi jotos. Tapi tenang, memakan nasi ini tidak akan membuat Anda babak belur kena jotos. Anda justru akan menikmati rasanya yang nikmat di balik kesederhanaan sajiannya.

Dari namanya, nasi jotos, mungkin yang terbayang adalah kepalan tinju. Tidak salah memang, karena nama nasi tersebut diambil dari ukuran besarnya nasi yang seukuran kepalan tinju orang dewasa. Sebenarnya, nasi jotos Madiun mirip nasi kucing di Yogyakarta dan Solo atau nasi jinggo di Bali. Yang membedakan adalah ukuran nasi di Madiun lebih besar.Nasi yang cocok disantap kapan saja ini biasa disajikan dengan lauk berupa telur, tempe atau tahu. Tak lupa sambal tomat yang khas dan beberapa tambahan berupa mi atau bihun. 

Makanan ini dibungkus dengan daun pisang yang mengeluarkan aroma menggugah selera ketika terkena uap dari nasi panas nasi jotos. Namun, ada pula penjual yang membungkus menggunakan kertas minyak.


Sumber: www.solopos.com